Jumat, 12 September 2008

ciuman pas puasa?!

menurut cerita artikel di www.al-islam.com
hadis riwayat aisyah ra., berkata: adalah Rasulullah SAW. mencium salah satu istri beliau dan beliau sedang berpuasa..lalu istrinya tersenyum..

wheits..artinya apa nih?!berarti kita boleh ciuman dong pas puasa???bukannya puasa itu kita harus menahan segala macam bentuk nafsu, baik nafsu yang berhubungan dengan perut(makan minum maksudnya..) nafsu yang berhubungan dengan emosi,dan nafsu yang berhubungan dengan birahi?
ciuman cuma salah satu bentuk sentuhan fisik yang kalo anak muda jaman ayeuna mah bilang ngeus biasa..tapi sentuhan kecil tersebut sering menjadi gerbang memasuki sentuhan fisik lainnya yang lebih luar biasa, yang jelas-jelas ga boleh dilakukan selama puasa!!!

kemudian hadis itu berkata lagi..boleh melakukan ciuman asal tidak diikuti dengan nasfu birahi..
Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah ra:
Bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw.: Bolehkah orang yang sedang berpuasa itu berciuman (dengan istrinya)? Rasulullah saw. menjawab: Tanyakan saja kepada Ummu Salamah. Kemudian ia (Ummu Salamah) memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. melakukannya. Umar bin Abu Salamah lalu berkata: Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa baginda yang lalu dan yang akan datang? Rasulullah saw. bersabda padanya: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah dari kalian


ciuman tanpa nafsu?!memang tidak semua orang bisa melakukannya..kita bukan nabi..dan kita(mahasiswa maksudnya..) belum menikah..sentuhan fisik yang dilakukan oleh mereka yang telah menikah saja masih dipertanyakan, apalagi sentuhan fisik dilakukan oleh kita yang cenderung memiliki emosi masih labil..sanggupkah melakukan ciuman tanpa nafsu??

kalau tidak mempunyai kemampuan untuk menjinakkan api lebih baik tidak bermain api..

Yayan Hermawan (kod050099)

Rabu, 03 September 2008

Kita masih harus banyak belajar..

Selamat datang bulan suci Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang suci ini. Dengan segala nikmat dan limpahan akan karuniaNya. Namun yang terjadi di samping itu merupakan hal yang semata-mata kian kronis. Saya lebih senang menyebutnya dengan "komersialisasi islam" yang dilakukan secara masif oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, mulai dari lembaga emerintah, media massa, sampai lapisan masyarakat terendah sekalipun dalam stratanya.
Kenapa saya sebut demikian? Karena semakin majunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mampu membuat fenomena baru yang bergejolak di dalam masyarakat. Sehingga terjadi pergeseran nilai di dalam masyarakat kita, terutama muslim. Tragis memang, namun ini seperti luput dari penglihatan orang muslim sendiri. Bulan suci Ramadhan semakin erat hubungannya dengan logika untung-rugi dimana orang-orang dengan kalap berusaha dengan berbagai cara untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kita sebut media massa televisi misalnya. Tawaran cerita supersingkat a la sinetron ramadhan dan tidak memberikan pemaknaan apapun dalam pola hidup masyarakat Indonesia yang semakin susah pun menjadi
ujung tombak media ini dalam pertarungannya dalam meraup untung. Sama hal dengan stasiun lain yang dengan tanpa proses kreatif apapun (lebih tepatnya meniru) membuat program yang sama.
Apa yang terjadi di sini juga dilakukan oleh pihak lain, namun dengan teknik lain. Yaitu pengemis dadakan. Berbondong-bondong datang dari segala penjuru tanah air menuju kota besar demi mengais rupiah di bulan suci Ramadhan ini.
Yang perlu kita pelajari bersama adalah bagaimana kita bisa mengembalikan nilai agama sebagai nilai luhur sebagai pembimbing hidup dan sebagai kontrol sosial serta memaknai semuanya dalam hidup adalah bagaimana amalan kita untuk di akhirat nanti bukan sbanyak apa materi yang kita kumpulkan di dunia.

Oleh : Andry Novaliano (K0A 03082)