Jumat, 15 Agustus 2008

Tatto, antara mode dan pemberontakan

Anda tentu sering melihat tatto, bukan? Meskipun cuma sekadar gambar, fungsi tatto macam-macam. Ada yang cuma sekadar simbol kejantanan, untuk mempercantik diri, tanda kesuburan, dan sebagainya. Bahkan, ada pula yang dipolitisir. Contohnya dulu ketika Soeharto memerintahkan 'petrus' pada orang-orang bertatto.

Biasanya gambar dan simbol itu dihias dengan pigmen berwarna-warni. Jaman dulu, orang-orang masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional untuk mentatto seseorang. Orang-orang Eskimo misalnya, memakai jarum dari tulang binatang. Sekarang, orang-orang sudah memakai jarum dari besi, yang kadang-kadang digerakkan dengan mesin untuk 'mengukir' sebuah tatto.

Di kuil-kuil Shaolin malah memakai gentong tembaga yang panas untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuh. Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan simbol itu kemudian menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu.

Pada sistem budaya yang berlainan, tatto mempunyai makna dan fungsi yang berbeda-beda. Suku Maori di New Zealand membuat tatto yang berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat. Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik.

Di Kepulauan Solomon, tatto ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus inisiasi untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti diatas, orang-orang Suku Nuer di Sudan memakai tatto untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.

Di Indonesia sendiri, pernah ada masa ketika tatto dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali atau bromocorah. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan salah dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat.

Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat "pengesahan" ketika pada tahun 80-an terjadi pembunuhan misterius terhadap ribuan orang gali. Mantan Presiden Soeharto dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya mengatakan, "...petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat".

Orang-orang kulit putih menerapkan sistem politik apartheid di Afrika Selatan hanya karena orang-orang Afrika berkulit hitam'. Di Jerman, Hitler dengan Nazi-nya membantai orang-orang Yahudi hanya karena di dalam tubuh orang Yahudi tidak mengalir darah Arya, darah tubuh manusia yang paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan di bumi ini menurut Hitler. Sebelum tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi dan fashionable seperti sekarang ini, tatto memang dekat dengan budaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tatto dan larangan memakai rajah atau tatto bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tatto sebagai sesuatu yang: dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada, sama dengan membebaskan diri terhadap segala tabu dan norma-norma masyarakat yang membelenggu. Orang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat memakai tatto sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri. Anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tatto sebagai simbol pembebasan.Setiap jaman melahirkan konstruksi tubuhnya sendiri-sendiri. Dulu tatto dianggap jelek, sekarang tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis dan trendi. Kalau era ini berakhir, entah tatto akan dianggap sebagai apa. Mungkin status kelas sosial, mungkin sekedar perhiasan, atau yang lain. Taka Tigana F_KOC03082


Tidak ada komentar: