Jumat, 12 September 2008

ciuman pas puasa?!

menurut cerita artikel di www.al-islam.com
hadis riwayat aisyah ra., berkata: adalah Rasulullah SAW. mencium salah satu istri beliau dan beliau sedang berpuasa..lalu istrinya tersenyum..

wheits..artinya apa nih?!berarti kita boleh ciuman dong pas puasa???bukannya puasa itu kita harus menahan segala macam bentuk nafsu, baik nafsu yang berhubungan dengan perut(makan minum maksudnya..) nafsu yang berhubungan dengan emosi,dan nafsu yang berhubungan dengan birahi?
ciuman cuma salah satu bentuk sentuhan fisik yang kalo anak muda jaman ayeuna mah bilang ngeus biasa..tapi sentuhan kecil tersebut sering menjadi gerbang memasuki sentuhan fisik lainnya yang lebih luar biasa, yang jelas-jelas ga boleh dilakukan selama puasa!!!

kemudian hadis itu berkata lagi..boleh melakukan ciuman asal tidak diikuti dengan nasfu birahi..
Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah ra:
Bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw.: Bolehkah orang yang sedang berpuasa itu berciuman (dengan istrinya)? Rasulullah saw. menjawab: Tanyakan saja kepada Ummu Salamah. Kemudian ia (Ummu Salamah) memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah saw. melakukannya. Umar bin Abu Salamah lalu berkata: Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa baginda yang lalu dan yang akan datang? Rasulullah saw. bersabda padanya: Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah dari kalian


ciuman tanpa nafsu?!memang tidak semua orang bisa melakukannya..kita bukan nabi..dan kita(mahasiswa maksudnya..) belum menikah..sentuhan fisik yang dilakukan oleh mereka yang telah menikah saja masih dipertanyakan, apalagi sentuhan fisik dilakukan oleh kita yang cenderung memiliki emosi masih labil..sanggupkah melakukan ciuman tanpa nafsu??

kalau tidak mempunyai kemampuan untuk menjinakkan api lebih baik tidak bermain api..

Yayan Hermawan (kod050099)

Rabu, 03 September 2008

Kita masih harus banyak belajar..

Selamat datang bulan suci Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang suci ini. Dengan segala nikmat dan limpahan akan karuniaNya. Namun yang terjadi di samping itu merupakan hal yang semata-mata kian kronis. Saya lebih senang menyebutnya dengan "komersialisasi islam" yang dilakukan secara masif oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, mulai dari lembaga emerintah, media massa, sampai lapisan masyarakat terendah sekalipun dalam stratanya.
Kenapa saya sebut demikian? Karena semakin majunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mampu membuat fenomena baru yang bergejolak di dalam masyarakat. Sehingga terjadi pergeseran nilai di dalam masyarakat kita, terutama muslim. Tragis memang, namun ini seperti luput dari penglihatan orang muslim sendiri. Bulan suci Ramadhan semakin erat hubungannya dengan logika untung-rugi dimana orang-orang dengan kalap berusaha dengan berbagai cara untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kita sebut media massa televisi misalnya. Tawaran cerita supersingkat a la sinetron ramadhan dan tidak memberikan pemaknaan apapun dalam pola hidup masyarakat Indonesia yang semakin susah pun menjadi
ujung tombak media ini dalam pertarungannya dalam meraup untung. Sama hal dengan stasiun lain yang dengan tanpa proses kreatif apapun (lebih tepatnya meniru) membuat program yang sama.
Apa yang terjadi di sini juga dilakukan oleh pihak lain, namun dengan teknik lain. Yaitu pengemis dadakan. Berbondong-bondong datang dari segala penjuru tanah air menuju kota besar demi mengais rupiah di bulan suci Ramadhan ini.
Yang perlu kita pelajari bersama adalah bagaimana kita bisa mengembalikan nilai agama sebagai nilai luhur sebagai pembimbing hidup dan sebagai kontrol sosial serta memaknai semuanya dalam hidup adalah bagaimana amalan kita untuk di akhirat nanti bukan sbanyak apa materi yang kita kumpulkan di dunia.

Oleh : Andry Novaliano (K0A 03082)

Rabu, 20 Agustus 2008

Kulit Mu Begitu Mengaggumkan


TAHUKAH Anda betapa kulit kita begitu mengagumkan? Sebagai bagian terluar, kulit tumbuh dan berkembang bersama kita sejak bayi hingga sekarang, ia juga memungkinkan kita bersentuhan dengan dunia luar. Kulit pula yang melindungi kita dari cuaca dan infeksi, dan mampu mendinginkan dan menghangatkan tubuh.

Wanda Hamidah, artis yang kini tengah mengandung anak ketiganya, termasuk wanita yang sangat mengagumi kulitnya. "Dengan menakjubkan, kulitku secara elastis meregang mengikuti perubahan bentuk tubuh. Dari yang tadinya perut rata sekarang membesar mengikuti berat bayi," kata salah satu brand ambassador Vaseline Firming ini.

Sementara itu, Dewi Sandra, penyanyi, mengatakan bahwa kulit bisa menceritakan hidup seseorang. "Warna, vlek, tanda lahir, atau bekas luka di kulit banyak bercerita tentang pemiliknya. Begitu juga kulitku," ujar brand ambassador Vaseline Healthy White ini.

Melihat fungsinya yang sangat penting, seharusnya kita menjaga kesehatan kulit. Sayangnya, perawatan kulit yang kita lakukan masih sekadarnya atau bahkan luput dari perhatian kita. Padahal, kulit yang sehat adalah hal yang penting, tidak saja untuk kesehatan secara keseluruhan, tapi juga sebagai penunjang penampilan.

Kulit yang sehat, menurut dr Titi Lestari Sugito, SpKK, adalah kulit yang bersih, lembut, lembab, cerah, dan elastis. Oleh karena itu kulit harus terjaga kelembabannya. Secara alami kulit normal memiliki lapisan pelembab sebagai pelindung, tapi karena pengaruh lingkungan dan agresi dari luar (sinar matahari, polusi, sabun, dan lainnya), lapisan tersebut berkurang atau hilang hingga perlu diberikan pelembab dari luar.

Itu sebabnya pemakaian pelembab sangat penting, paling sedikit gunakan dua kali dalam sehari. Pemakaian pelembab akan lebih efektif bila kulit dalam keadaan bersih dan sudah menyerap air karena cara kerjanya yang membentuk lapisan sehingga air yang sudah terserap kulit tidak cepat menguap. Karena itu disarankan untuk menggunakan pelembab setelah mandi.

Perawatan kulit seharusnya dijadikan sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. Selain itu, makanlah makanan yang mengandung protein untuk regenerasi sel. Perbanyak buah dan sayuran, serta minum air putih sedikitnya delapan gelas sehari.

yayu sri dewi
210203060054
kehumasan B

Waspadalah Kosmetik Bagi Ibu Hamil


HAMPIR semua ibu ingin kelihatan cantik dan rapi, bahkan kala hamil sekali pun. Namun, mengingat sebagian besar kosmetika di pasaran terbuat dari bahan kimia, ibu hamil perlu lebih berhati-hati. Kosmetika yang mengandung bahan kimia berbahaya bisa saja memicu masalah dalam proses pertumbuhan janin.

Dr H Taufik Djamaan, Sp.OG dari RS Bunda Jakarta mengungkapkan, banyak ahli yakin bahwa bayi yang menderita alergi, kanker kulit, autisme, dan cerebral palsy antara lain disebabkan paparan zat-zat kimia, salah satunya zat kimia dari kosmetik, seperti timah hitam, aluminium, metilmerkuri, dan alkohol. Memang, diakuinya, keyakinan ini masih berdasarkan dugaan, belum sampai pada kesimpulan.

"Namun demikian, setidaknya ibu hamil perlu mewaspadai mungkin saja kosmetika yang dipakainya menjadi berbahaya bila digunakan selagi hamil," ujar Taufik. Untuk mengantisipasi bahaya ini, ibu perlu bersikap waspada, tapi bukannya tidak memakai produk kosmetika sama sekali.

Pastikan ibu tidak menggunakan kosmetika dengan bahan yang mengandung timah hitam, aluminium, metilmerkuri, dan alkohol, seperti yang banyak terkandung dalam krim pemutih kulit, cat rambut, dan obat keriting. Di luar itu, penggunaan kosmetika sebaiknya normal saja, tidak berlebihan.

Lalu, kosmetik apa saja yang perlu dicermati?
* LIPSTIK
Zat pewarna dan pengawet yang terkandung dalam lipstik jika tidak tertelan tak akan membahayakan janin. Lagi pula, kandungannya dalam kosmetik sangat sedikit, jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan. Kecuali kalau ibu punya kebiasaan menjilati bibir, mungkin sekali lapisan lipstik yang dioleskan di bibir ikut tertelan.

"Dalam jumlah sedikit memang tidak akan berdampak apa-apa, tapi kalau ibu tanpa sadar sering menjilat bibirnya yang berlipstik, mungkin saja jumlah yang tertelan menjadi banyak," kata Taufik. "Pengawet dan pewarna kalau dikonsumsi secara langsung memang sangat berbahaya buat ibu dan janin," tambah dr Tina Wardhani Wisesa, Sp.KK, spesialis kulit dari klinik Sakti Medika, Tebet, Jakarta.


* KRIM PEMUTIH
Ciri krim pemutih yang mengandung merkuri ini adalah proses kerjanya yang sangat cepat. Tiga hari dipakai, hasilnya sudah dapat terlihat. Tanpa merkuri, umumnya krim pemutih baru terlihat hasilnya setelah pemakaian berminggu-minggu. Oleh karena itu, jangan pernah tergiur dengan penawaran ini.


* CAT RAMBUT
Cat rambut yang awet biasanya mengandung zat berbahaya. Kalau mau, gunakan cat rambut yang harus diulang setiap dua minggu karena itu berarti kandungannya tidak cukup berbahaya. Untungnya, saat ini berbagai produk kosmetik dan perawatan tubuh bermutu sudah tidak lagi memakai bahan-bahan keras yang berbahaya.

"Banyak produsen yang lebih suka memanfaatkan bahan dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang aman," tambah Tina. Bila ibu hamil tidak yakin akan kandungan zat-zat kosmetika yang akan dipakai, bertanyalah pada ahli kosmetika atau dokter kandungannya lebih dulu. "Biasanya mereka akan menjelaskan mana yang baik digunakan dan mana yang tidak."


* OBAT JERAWAT
Ibu hamil yang akan mengobati infeksi pada kulit wajah, seperti jerawat yang menimbulkan kemerahan pada kulit, memerlukan pengawasan dari dokter kandungan ataupun ahli kosmetik. "Biasanya, ibu hamil diminta untuk menunda pengobatan sampai usia kandungannya mencapai 4 bulan, kalau dipaksakan dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan awal janin," tutur Tina. Selepas usia kandungan 4 bulan, silakan saja ibu hamil melakukan perawatan kulit berjerawat.


yayu sri dewi
20203060054
kehumasan B

Selasa, 19 Agustus 2008

SIMBIOSE MUTUALISME DI KALANGAN WARGA RIAU: Membiayai Kursus Sambil Menimba Ilmu

SEIRING PERKEMBANGAN EKONOMI dan fasilitas di propinsi Riau, semakin banyak karyawan perkantoran yang memiliki komputer berprosesor tinggi di rumahnya masing-masing. Sebagaimana di propinsi lainnya, banyak dari mereka yang kurang terampil dalam memberdayakannya. Peralatan yang seharusnya dioptimalkan itu hanya terpakai sedikit. Malah terkadang hanya dipakai untuk menulis teks (Word) dan menyusun data (Excel) yang variasinya pun terbatas.

Mungkin ada di antara mereka yang menyadari, yang kemudian terpikir untuk mengikuti kursus. Uang cukup untuk itu. Tetapi mengalami kesulitan waktu. Pagi-pagi harus sudah berada di kantor. Baru pulang sekitar matahari terbenam.

Sementara banyak anak potensial yang pendidikannya terhenti sampai SMU hanya kerena keterbatasan biaya. Malah untuk kursus yang dianggap relatif lebih murah pun tidak punya. Sedangkan untuk cari kerja susahnya bukan main. Perusahaan memang sangat selektif menjadikan mereka sebagai karyawan, terlebih bila nantinya hanya akan menjadi counter produktive. Jadilah pengangguran.

Rasanya klop sekali bila kedua problem di atas dipecahkan dengan menciptakan tradisi kerjasama yang komplementer, bak mur dan baut. Yang satu mengatasi kekurangan uang dan yang lain mengatasi kekurangan ilmu.

Agar jelas simaklah cerita berikut ini :
Seorang wanita karir yang berusia 40 tahun itu yang sangat sibuk di kantornya. Belum lagi kesibukannya mengurus keluarga. Untuk meringankan pekerjaannya di kantor, ia yang sering dipanggil Ny. Aminah itu bermaksud ingin mendalami "Microsoft Excel" dan "Microsoft Word", dengan mengikuti kursus di salah satu Lembaga Pendidikan Komputer. Sayangnya ia tidak mempunyai waktu. Apalagi tempatnya cukup jauh. Sebagai alternatifnya, dicarilah orang yang juga berminat dengan kursus tersebut, tetapi tidak mempunyai uang.

Akhirnya memang ditemukan yang kebetulan anak tetangga, Luthfiana, seorang gadis yang berusia 18 tahun. Ia tidak bisa melanjutkan ke universitas karena faktor biaya. Maklumlah, penghasilan orangtuanya pas-pasan sebagai buruh rendah.

Ia menyatakan kesediaannya membiayai biaya kursus Microsoft, tetapi dengan syarat, yaitu setelah berhasil menguasainya, gadis itu harus datang tiga kali seminggu pada pukul delapan malam. Maksudnya apalagi kalau bukan minta diajarkan program tersebut dengan menggunakan komputer yang sudah tersedia di rumahnya.

Seperti "pucuk dicinta ulam tiba". Luthfiana menyanggupinya. Ny. Aminah langsung memberi uang secukupnya, yang meliputi untuk biaya kursus, buku, dan transport. Ceritanya Luthfiana berhasil menyelesaikan kursus serta dilanjutkan dengan melaksanakan kesepakatan.

Dalam waktu enam minggu Ny. Aminah pun menguasai program tersebut untuk kemudian diaplikasikan dalam berbagai pekerjaan kantornya. Sementara Luthfiana semakin terampil memanfaatkan kedua jenis software tersebut. Bukan itu saja. Bila Ny. Aminah sejak itu berhasil menyelesaikan pekerjaan satu jam lebih cepat, maka Luthfiana mempunyai pekerjaan baru, yakni memberikan kursus privat pada malam hari kepada orang kantoran di rumahnya masing-masing.

Sungguh suatu simbiose mutualisme dalam artian sebenarnya. Sangat tampak kredit point "Sumber Daya Manusia" pada keduanya tanpa "yang satu merasa berjasa kepada yang lain", tetapi tetap mengandung unsur kesetiakawanan.

Penulis yakin, banyak pejabat pemerintah daerah Riau yang merasa terharu bila terjadi dikalangan warganya. Tetapi tentu saja tidak cukup sekedar bersikap demikian. Perlu ditindaklanjuti dengan memobilisasi, mengapresiasikan, atau menggerakannya.

Karenanya tidak berlebihan bila pemerintah daerah Riau melalui Dinas Pendidikan Nasional melalui berbagai cara bersedia menciptakan tradisi demikian. Bukan saja dalam kaitan "kursus komputer", juga bidang lainnya. Lagian untuk ini tidak perlu mengorek anggaran pendidikan.

Malah bila sukses tidak mustahil kelak akan menjadi proyek percontohan bagi propinsi lainnya.

Musik dan Film: Bukan Sekedar Latar


Bayangkan: adegan menegangkan di shower (gadis yang akan ditikam ketika mandi) dalam film Psycho (Alfred Hitchcock) yang terkenal itu ...tapi tanpa musik! Film thriller tanpa musik? Ada sekian tingkat ketegangan yang hilang tanpa bantuan musik.

Musik telah jadi bagian tak terpisahkan dari film (genre apapun). Bahkan musik-musik film tertentu tertanam dalam-dalam pada benak penontonnya. Sebagian orang akan selalu terbuai ke dunia jauh, ke alam Cassablanca, jika mendengar As Time Goes By. Sebagian orang masih menyenandungkan Lara's Theme dan teringat epik cinta Doctor Zhivago. Atau menyiulkan lagu tema Love Story pada saat merasa romantis. Banyak film yang menjadi abadi karena lagu/musik mereka.

Dan Hollywood dengan sigap mengindustrikan fenomena tersebut. Musik/lagu dari film - layar lebar ataupun televisi - menjadi sebuah komoditi tersendiri.

Perkembangan
Di era film bisu, musik jadi latar dengan berbagai alasan: sebagai warisan tradisi teater, sebagai peredam suara berisik dari proyektor, dan sebagai pemberi 'kedalaman' pada gambar bisu dua dimensi di layar.

Di era film bersuara, musik film mulai menyusun bahasanya tersendiri. Pada awalnya musik film melanjutkan tradisi era film bisu, yaitu menggunakan khasanah musik Barat yang telah ada - terutama musik klasik Eropa abad 19. Pada era 1930-an, mulai umum untuk menuliskan komposisi khusus untuk sebuah film. Sebagian sineas - seperti para sineas di Rusia - menggunakan musik dalam rangka eksplorasi relasi antara musik (sebagian bagian dari suara) dan gambar. Tapi kebanyakan film menempatkan musik sebagai dekor atau alat bantu saja dalam membangun suasana.

Dalam era 1930-an itu Hollywood mulai menyususn kamus musik film lewat para komposer yang terdidik dalam tradisi musik Eropa. Kosa musik-film itu mapan di era 1940-an. Nama-nama terkemuka pada masa itu antara lain Max Steiner (King Kong (1933)) dan Bernard Herrmann - dengan karya mencakup Citizen Kane (1941) hingga Psycho (1960).

Dominasi kosa musik-film yang menggunakan simfoni dan bergaya Eropa mulai didobrak di tahun 1950-an: pengaruh jazz masuk ke arus besar film Hollywood. Para pemulanya antara lain adalah Alex North (A Street Car Named Desire (1951), Cleopatra (1963), Who's Affraid of Virgina Wolf? (1966)) dan Elmer Bernstein (The Man With The Golden Arm (1955), Magnificent Seven (1960)). Salah satu komposer paling terkenal aliran itu adalah Henry Manciny. Musik film dengan pengaruh jazz memang wajar disukai para pembuat film karena di samping ekspresif, lebih kontemporer dari musik gaya romantik Eropa, juga tak memerlukan orkestra besar, hingga bisa lebih murah.

Era 1950-an adalah juga era eksperimen musik/bunyi yang lebih beragam. Di India, Satyajit Ray menggunakan musik etnis karya Ravi Shankar untuk filmnya, Pather Panchali. Di Jepang, Fumio Hayasaka menggunakan alat-alat musik Jepang untuk film Akira Kurosawa, Rashomon (1950) dan Seven Samurai (1955). Eropa melahirkan pakem musik-film dengan orkes studio yang kecil. Gerakan new-wave di Perancis turut mempopulerkan pakem itu, dan melahirkan tokoh musik-film seperti Michael Legrand (The Umbrellas of Cherbourg (1964), Summer of '42 (1972) - di situ ia memenangkan Oscar, dan Yentl (1983) - juga memenangkan Oscar).

Eksperimentasi tahun 1950-an dilanjutkan dengan eksperimentasi tahun 1960-an. Dunia sedang dilanda revolusi musik, dengan pahlawan utamanya: The Beatles. Yang paling menonjol dari revolusi musik itu - disamping mencuatnya ragam bunyi etnis dan jazz - adalah mencuatnya musik rock sebagai kekuatan baru. Khasanah musik film pun ikut kena imbas, dan pengaruh rock mulai tertanam. Salah satu empu musik film dengan pengaruh rock itu adalah John Barry yang karyanya mengisi hampir seluruh film James Bond, juga, antara lain, Born Free (1966), Out of Africa (1985), Dances With Wolves (1990) dan Indecent Proposal (1993).

Pada tahun 1980-an, beberapa kecenderungan mutakhir mencuat ke permukaan. Pertama, penggunaan synthesizer. Nama-nama yang menonjol dalam arus itu adalah Vangelis (Chariots of Fire (1981), Blade Runner (1982)), Tangerine Dream (Legend (1985), Vision Quest (1985)) dan Giorgio Moroder (Flash Dance (1983) dan Top Gun (1986)). Musik film dengan synthesizer memberi nuansa yang khas: bunyi-bunyi buatan elektroniknya amat tepat untuk membangun atmosfer 'dunia yang lain' (alam dongeng, futuristik atau mimpi) pada gambar di layar.

Trend kedua, musik avant garde tak hanya jadi 'milik' film avant garde saja. Musik garda depan masuk juga ke arus besar. David Byrne, seorang musisi avant garde, menyusun komposisi untuk Something Wild (1986) dan ikut membantu dalam The Last Emperor (1987) yang, antara lain, memenangkan Oscar untuk tata musiknya.

Trend ketiga adalah kecenderungan membangun tata musik film dari lagu-lagu populer. Film-film seperti Big Chill (1983), Down And Out in Beverly Hills (1986) dan Good Morning, Vietnam (1987) dengan sengaja membangun suasana lewat musik-musik lawas yang sudah membenam dalam kesadaran kolektif penonton Amerika - dalam dua film pertama, hal itu memang diharuskan oleh cerita. Variasi lain dari trend itu adalah tata musik film yang memang dengan sadar memilih lagu-lagu rock yang sedang atau akan digemari, seperti Against All Odds (1984 - dan mempopulerkan single dari Phil Collins dengan judul sama) dan White Nights (1985 - mencuatkan hit Lionel Ritchie, Say You Say Me). Variasi tersebut terpengaruh sebuah serial televisi, Miami Vice.

Trend terakhir pula yang membuka peluang bagi meriahnya musik alternatif dan musik 'hitam' - terutama R&B dan rap - menghias film-film Hollywood tahun 1990-an. Menguatnya black music berkait juga dengan munculnya trend black movies di Hollywood yang dimotori oleh Spike Lee (Jungle Fever, Malcom X) dan John Singleton (Boyz 'n The Hood, Poetic Justice). Namun, tata musik black music untuk black movies yang cenderung rasialis itu melebar juga ke arus besar yang dikuasai sineas 'bule'. Contohnya, Space Jam: film itu tampak sebagai 'milik' orang hitam - pahlawan basket Michael Jordan serta musik R&B dan rap mendominasi film. Padahal tokoh-tokoh kartun Loonie Toons (lawan main Jordan), adalah produk budaya 'putih' Amerika (belum lagi jajaran produser film tersebut, yang mengeruk untung besar dengan menjual muatan 'hitam' itu, juga kulit putih).

Berburu ‘harta karun’
Dengan segala perkembangan tersebut dunia tata musik film menjadi sebuah lahan koleksi yang menyenangkan dan berharga. Di Jakarta, para kolektor biasa mengaduk-aduk toko macam Duta Suara (terutama yang di Sabang) dan Aquarius (khususnya yang di Pondok Indah - sayang, sudah dibakar massa Mei 1998 lalu). Keduanya terhitung punya koleksi paling lengkap. Aquarius Pondok Indah malah menyertakan juga koleksi musik dari drama-drama musikal Broadway (seperti Jesus Christ Superstars, Cats, Miss Saigon). Yang lebih rajin bisa ju0ga mengaduk-aduk Glodok atau kios-kios musik loakan di Jalan Surabaya. Di Jalan Surabaya, disamping CD-CD dan kaset-kaset bekas, juga dijual video dan piringan hitam - sering dengan kualitas yang masih lumayan terjaga. Berhubung kios loakan, maka rekaman-rekaman sound track yang dijual kebanyakan dari film-film lama (1960-an hingga 1970-an). Buat para kolektor, hal itu justru mengasyikkan.

Dari khasanah musik film kita juga bisa menemukan 'harta karun' yang sukar ditemukan dalam rak-rak musik lain. Misalnya dalam OST Leaving Las Vegas, Sting menyanyikan lagu-lagu karya sang sutradara, Mike Figgis, yang khusus ditata untuk film tersebut. Para penggemar Sting tentu saja tak akan menemukan lagu-lagu tersebut pada album-album Sting. Contoh lain, para penggemar Led Zeppelin bisa mengobati rindu mereka dengan mendengar karya-karya dua eksponen grup legendaris itu, Jimmy Page dan John Paul Jones, dalam dua karya sutradara Michael Winner. Page menata musik Death Wish II (Charles Bronson), dan Jones menata musik Scream For Help (yang melejitkan hit Christie dengan vokal Jon Anderson).

‘Harta karun’ lain adalah jika seorang bintang benar-benar menyanyikan sendiri lagu dalam filmnya. Dalam Evita, misalnya, semua bintang menyanyikan sendiri lagu-lagu yang ditampilkan - termasuk Antonio Banderas. Sebelumnya, Banderas juga menyanyikan sebuah lagu dalam Mambo King. Atau jika ingin mendengar suara sexy Michelle Pfeifer, silahkan putar OST Faboulus Baker Boys (adegan paling terkenal dalam film itu adalah saat Pfeifer menyanyikan Makin' Whoopee di atas piano). Yang lebih unik adalah kasus Blues Brothers dan The Commitments: keduanya adalah film tentang kelompok musik fiktif, tapi kemudian para pemerannya malah jadi musisi betulan!

Hal lain yang mengasyikkan dalam berburu musik film adalah seringkali musik yang kita dengar lamat-lamat, separuh-separuh, atau sambil lalu (tanpa sadar, karena kita sedang terpesona oleh gambar/adegan) saat menonton ternyata merupakan komposisi yang bermutu dan dikerjakan secara serius oleh musisi yang piawai. George & Ira Gershwin, Maurice Jarre, Henry Manciny, Bernard Hermann, John Barry, adalah contoh nama-nama terhormat: kumpulan karya-karya mereka untuk berbagai film telah menjadi tonggak musik tersendiri.

Indonesia juga punya nama terhormat: Idris Sardi. Beliau terhitung paling piawai dalam menata musik yang bisa memberi tekanan suasana tertentu pada citra yang bergerak di layar. Juga Eros Djarot - karya-karyanya dalam Badai Pasti Berlalu telah menjadi tonggak musik pop tanah air dengan melejitkan Chrisye dan Keenan Nasution. Namun seiring dengan 'tidur'-nya film Indonesia, mereka seperti ikut terbungkam dalam berkarya.

Sayangnya kesadaran kita untuk mendokumentasikan tata musik film - sebagaimana kesadaran kita untuk mendokumentasikan film-film nasional - amat minim. Tapi era 1990-an adalah masa yang menarik untuk perkembangan OST dalam negeri. Yang merajai pasar adalah OST film-film TV produk luar (khususnya Hong Kong) yang di-Indonesia-kan. Bermula dari sukses lagu tema Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti yang dinyanyikan Yuni Shara, para penyanyi lokal lain banyak mengalami sukses serupa. Belakangan, OST sinetron-sinetron lokal pun lumayan laku dijual. Tapi, sebagaimana film nasional secara umum, lahan musik film kita pun belum optimal digarap.

GUNUNG CIREMAI

Berkas:Ciremai 040906 021 resize.jpg

Gunung Ceremai (seringkali disebut 'Ciremai') secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan (calon) Taman Nasional Gunung Ceremai, yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.

Nama gunung ini berasal dari ceremai (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, karena kebiasaan di wilayah Pasundan yang banyak menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.


Vulkanologi dan geologi

Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.

Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).

Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.

Jalur pendakian

Puncak gunung Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam "Akar (Aktivitas Anak Rimba)" yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai

Vegetasi

Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atau semak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.

Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.

Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.

Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.


Margasatwa

Keanekaragaman satwa di Ceremai cukup tinggi. Penelitian kelompok pecinta alam Lawalata IPB di bulan April 2005 mendapatkan 12 spesies amfibia (kodok dan katak), berbagai jenis reptil seperti bunglon, cecak, kadal dan ular, lebih dari 95 spesies burung, dan lebih dari 20 spesies mamalia.

Beberapa jenis satwa itu, di antaranya: